sudah lamaa lamaa lamaa sekali tidak ngeblog, karena males & sibuk. tapi mudah-mudahan setelah kembali aktif (masuk sekolah) ane bisa nyempetin update. ya walaupun memang dalam blog ini tidak jelas alias tidak fokus dalam satu topik berkaitan dengan konten yang ditawarkan. karena memang blog ini hanyalah blog pribadi dan memang sekedar iseng-isengan sejak awal mengenal dunia blog.
Hmm... cerita sedikit deyh, sekarang kesibukan ane jadi wali kelas III di SD Al Irsyad Al Islamiyyah Kota Cirebon. yuupzz... anak-anaknya seru, memang ane lebih banyak cerita tentang anak-anak di blog sekolah tapi nanti deyh ane masukin juga dimari.
Cuma nambahin content posting kali ini, ane masukin gambar skul ane yee...
BPPS merupakan beasiswa pendidikan pasca sarjana yang diberikan oleh Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan sebagai upaya peningkatan kualitas pendidikan melalui peningkatan mutu tenaga pendidik dan kependidikan.
untuk itu, BPPS tidak hanya diberikan kepada tenga pendidik namun diberikan pula kepada tenaga kependidikan. Pada jenjang perguruan tinggi, Dosen merupakan sumberdaya perguruan tinggi yang sangat penting dalam menentukan kualitas efektivitas dan efesiensi penyelenggaraan pendidikan tinggi. Oleh karena itu kualitas dosen senantiasa perlu ditingkatkan melalui pendidikan lanjutan, pelatihan, magang dan lainnya. Undang-undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa dosen program Diploma dan program Sarjana minimal berpendidikan magister dan dosen program magister berpendidikan Doktor.
Bagi rekan-rekan yang ingin mengetahui info selengkapnya, silahkan kunjungi situs resmi Direktorat Pendidik dan tenaga kependidikan disini
Bagi rekan-rekan dosen yang ingin meningkatkan kualifikasi, baik untuk melanjutkan ke jenjang S2 maupun S2, ada tawaran beasiswa unggulan dari Dikti. Seringkali kita kurang informasi di Kampus mengenai program beasiswa, karena kesibukan maupun terputus di tengah jalan. untuk itu itu, berikuty saya informasikan perihal Beasiswa Unggulan Dikti tahun 2012.
Tawaran Beasiswa Unggulan 2012 Ditjen Dikti
Written by Septien Prima D
Monday, 12 March 2012 13:12
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI
Jl. Jenderal Sudirman, Pintu 1 Senayan, Jakarta 10002
Telp.(021)57946053 Fax.(021) 57946052
Email : subdit_pk@dikti.go.id, homepage : www.dikti.go.id
Nomor : 620.1/E4.4/2011 29 Februari 2012
Lampiran :
Hal : Tawaran Beasiswa Unggulan 2012 Ditjen Dikti
Kepada Yth :
1. Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri seluruh Indonesia
2. Direktur Politeknik Negeri seluruh Indonesia
3. Koordinator Kopertis Wilayah I-XII
Salah satu upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia di perguruan tinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi tahun 2012 kembali berinisiatif menyelenggarakan program Beasiswa Unggulan (BU) bagi Calon Pendidik dan Tenaga Kependidikan Tetap. Program ini dimaksudkan untuk meningkatkan kompetensi akademik dosen dan tenaga kependidikan yang memenuhi kualifikasi unggul. Program BU merupakan beasiswa untuk mengikuti pendidikan bergelar tingkat pascasarjana (Magister atau Doktor) pada perguruan tinggi di dalam dan di luar negeri dengan memprioritaskan pada bidang-bidang keilmuan strategis. Adapun persyaratan umum yang harus dipenuhi bagi calon adalah: ...
JAKARTA, KOMPAS.com - Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menegaskan diri sebagai partai politik (parpol) meskipun mereka belum terlibat langsung dalam Pemilihan Umum nasional dan daerah di Tanah Air.
"Hizbut Tahrir itu partai politik Islam. Sejak dulu kami memang parpol kok," kata Muhammad Ismail Yusanto, juru bicara HTI dalam konferensi pers di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Rabu (29/6/2011).
Ia menjelaskan, partai politik memiliki empat fungsi yang saling berkaitan, yakni fungsi edukasi (pendidikan), artikulasi (penyuaraan), agregasi (perjuangan kepentingan kelompok) dan representasi (perwakilan).
"Yang belum kami wujudkan di Indonesia hanya fungsi keempat, representasi. Itu kan lebih ke urusan formalnya saja, seperti pendaftaran di Kemenkumham," tukas Ismail.
Fungsi-fungsi lain, menurutnya, sudah diterapkan HTI. Fungsi edukasi misalnya dijalankan dengan adanya kegiatan dakwah rutin, hingga konferensi, sebagaimana diadakan hari ini, konferensi Rajab. "Fungsi artikulasi misalnya, melalui tulisan-tulisan di media, penyampaian aspirasi dan tuntutan langsung ke DPR, dan berbagai demo yang kami adakan. Demikian juga, dengan fungsi agregasi," terang Ismail.
Ia sendiri tidak memberi kepastian kapan HTI akan terlibat langsung dalam fungsi representasi, dengan terdaftar secara yuridis-formal sebagai salah satu partai Islam di Indonesia. Ia hanya menjelaskan, Hizbut Tahrir di dunia memang dikenal sebagai parpol Islam.
Hizbut Tahrir adalah partai yang didirikan Syeikh Taqiyuddin An Nabhani pada 1953 di Palestina. Aktivitasnya terbagi dalam tiga tahap, yaitu pembinaan (tatsqif), berinteraksi dengan umat (tafa'ul ma'a al-ummah), dan meminta pertolongan dari kalangan yang memiliki kekuatan riil (thalab al- mushrah). Hizbut Tahrir disebutkan juga memili jalur dakwah secara fikriyyah (pemikiran) dan siyasiyyah (politik), tidak menggukan kekerasan.
BANJARMASIN, KOMPAS.com - Wakil Ketua Komisi I bidang hukum dan pemerintahan DPRD Kalimantan Selatan, H Mansyah Sabri merespon positif wacana penempatan sebagian pegawai negeri sipil sebagai "outsourcing" (alih daya/tenaga lepas).
Wacana tersebut dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Republik Indonesia, antara lain guna menghemat pengeluaran keuangan negara atau daerah, demikian dikatanya Rabu (29/6/2011).
"Saya setuju dengan wacana dari Kemenkeu tersebut, kalau konteksnya untuk penghematan keuangan negara atau daerah," tandas mantan PNS yang sejak belasan tahun silam bergabung dalam Partai Golkar itu.
"Memang kalau ada pekerjaan perkantoran yang bisa dilakukan dengan menggunakan jasa pihak ketiga, kenapa tidak kita lakukan, sehingga tak perlu merekrut orang menjadi pegawai negeri," lanjutnya didampingi rekannya satu Komisi, H Riduan Masykur dari PBR.
Bahkan Sekretaris Fraksi Partai Golkar DPRD Kalsel itu melempar wacana, perlu pertimbangan dan perhitungan secara cermat kemungkinan perkantoran pemerintah menggunakan sistem sewa mobil, tanpa harus melakukan pengadaan mobil dinas.
"Pengadaan mobil dinas, mungkin hanya untuk jabatan tertentu, sedangkan untuk operasional cukup dengan sistem sewa, karena tanpa harus mengeluarkan biaya perawatan/pemeliharaan," demikian Mansyah Sabri.
Sementara wakil rakyat dari PBR menyarankan, perlu perbaikan atau penyempurnaan data base kepegawaian, baik yang sudah menjadi PNS maupun yang masih berstatus honorer, guna lebih memudahkan penataan kembali terhadap pegawai.
"Penataan dimaksud, baik secara kuantitatif (jumlah) maupun kualitatif (kualitas terkait kecakapan dan keahlian), sehingga tak kesan seenaknya rekrutmen calon pengawai negeri sipil," demikian Riduan.
Sebelumnya dari Kemenkeu menyoroti masalah jumlah PNS yang terkesan kurang efesien dan efektif serta cenderung membuat pengeluaran uang negara dan daerah semakin banyak, terlebih dengan penambahan penerimaan.
Sebagai contoh rekrutmen tenaga kebersihan kantor menjadi PNS, yang semestinya tak perlu, karena pekerjaan tersebut bisa saja dilakukan melalui jasa pihak ketiga atau dengan sistem kontrak.
Persoalan lain yang menjadi pemikiran dan pertambangan, berkaitan dengan uang gaji serta tunjangan lainnya, juga terkait penyediaan dana pensiun yang mesti dibayar.
TRIBUNNEWS.COM - Apa yang Anda lakukan ketika mengalami insomnia? Mungkin Anda akan berusaha membuat diri mengantuk dengan menonton acara yang norak di televisi, membaca buku yang membosankan, hingga minum obat tidur.
Tetapi ada cara lain untuk mengatasi sulit tidur ini, kompres kepala Anda dengan air dingin.
Para dokter dari University of Pittsburgh School of Medicine melakukan suatu eksperimen untuk mengatasi pasien yang menderita insomnia. Sebanyak 12 pengidap insomnia primer (yang mengalami kesulitan tidur akibat stres) dan 12 pasien dengan kesehatan yang terkontrol, diberi tudung plastik yang berisi air dingin di kulit kepala dan dahi. Sebab, pengidap insomnia diketahui memiliki aktivitas otak yang lebih tinggi daripada mereka yang tak punya gangguan tidur.
Nah, tudung ini rupanya menurunkan suhu prefrontal cortex, bagian otak yang mendorong untuk tidur lelap. Akibatnya, aktivitas otak melambat, dan mendorongnya untuk beristirahat.
Setelah mengenakan tudung khusus tersebut, para pengidap insomnia ini tertidur dengan cepat. Mereka hanya butuh 13 menit untuk tertidur, yang artinya bahkan lebih cepat daripada pasien yang sehat (yang membutuhkan rata-rata 16 menit untuk terlelap). Kedua kelompok responden ini juga menghabiskan 89 persen dari waktu mereka di tempat tidur untuk tertidur lelap.
"Penemuan paling berarti dari studi ini adalah bahwa kita bisa mendapatkan dampak yang menguntungkan bagi penderita insomnia melalui mekanisme yang aman, dan mudah disediakan dirumah," papar Dr Eric Nofzinger, salah satu tim peneliti.
Meskipun demikian, ide memakai headcap berisi air dingin ini mungkin tidak semudah kedengarannya. Misalnya, seberapa dingin suhunya? Selain itu, kebanyakan dari kita tentu merasa tidak nyaman saat menempelkan sesuatu yang dingin pada kepala, apalagi di tempat tidur.
Dalam penelitian dua tahun sebelumnya, para spesialis masalah tidur di Inggris pernah menyarankan cara yang lebih simpel untuk mendinginkan tubuh. Menurut profesor Jim Horne dari Loughborough University, Anda bisa meletakkan kipas angin di samping tempat tidur untuk menghembuskan udara dingin ke arah muka. Begitu darah yang dingin dari pipi mengalir ke jantung, darah akan mengalir sepanjang arteri sambil membawa darah yang lebih hangat ke arah lain dari otak.
"Darah yang lebih dingin memasuki otak, dan menyebabkan tidur yang lebih nyenyak. Anda hanya butuh sedikit hembusan angin ke arah wajah," paparnya.
Astrid Ellena, gadis yang mewakili Jawa Timur, akhirnya terpilih sebagai
Miss Indonesia 2011 dalam malam final yang digelar di Ballroom Central
Park Jakarta, Jumat (3/6) lalu. Astrid akan dikirim ke London bulan
November nanti untuk mewakili Indonesia di ajang Miss World.
sumber ; http://id.omg.yahoo.com/galleries/photos/astrid-ellena-miss-indonesia-2011-433-1.html
Ranah 3 Warna adalah buku kedua dari A. Fuadi yang promonya dimana-mana bakal jadi best seller.
Seperti buku pertamanya, Negeri 5 Menara yang menjadi best seller, saya tak ragu lagi akan banyak orang menyukai buku Uda Fuadi yang kedua ini.
Kalo di Negeri 5 Menara kita melihat cerita Alif Fikri dan teman-teman Pondok Madani dengan mantra “Man Jadda wajada“, dalam buku kedua ini, Alif diceritakan memasuki masa dewasa dimana ia meneruskan pendidikannya dengan mantra baru “Man Shabara Zafira“.
Awalnya saya ngerasa bingung dengan cover buku juga pembatas buku yang dihadiahkan buku ini. Cover buku terlihat sepatu hitan dan untuk pembatas buku serupa daun. Ternyata, kalian wajib membaca buku ini dulu untuk tau apa arti dibalik semua itu. Cover itu adalah si Hitam, sepatu dari kulit jawi yang diberikan Ayah Alif sebelum Alif pergi merantau ke Bandung untuk kuliah. Daun? ya, pembatas bukunya unik, serupa daun yaitu daun maple khas negeri Kanada, tempat akhirnya Alif meraih mimpinya menginjak benua Amerika.
Diceritakan Alif akhirnya mengikuti ujian persamaan SMA untuk mandapatkan ijazah setara SMA sampai belajar sangat tekun dan rajin untuk mengikuti UMPTN untuk masuk kuliah sesuai harapan Alif. Akhirnya Alif diterima berkuliah di universitas negeri di Bandung dengan jurusan Hubungan Internasional, karena ia ingin lebih menguasai bahasa. Banyak hal yang dilalui Alif untuk bisa mengejar mimpi-mimpinya. Dengan ekonomi keluarga yang sulit ditambah dengan kepergian Ayah Alif yang tak pelak membuat saya ingin menangis dan meneteskan air mata, Alif harus bisa sekuat tenaga meneruskan hidupnya dan meraih mimpinya ke benua Amerika.
Alif akhirnya harus kerja keras, mulai dari mengajar privat hingga berjualan dari rumah ke rumah demi meneruskan kuliahnya. Sangat beruntung Alif bertemu dengan Bang Tigor, sang guru menulis Alif. Tidak hanya belajar menulis, Alif menemukan banyak pelajaran berharga dari Bang Togar.
Cerita dalam buku kedua ini ga cuma cerita Alif mengejar mimpi-mimpi ke Amerika, tapi juga tak luput dari cerita percintaan. Alif akhirnya jatuh cinta pada seorang wanita yang satu kampus dengannya dan juga mereka berdua berkesempatan ke Kanada, tapi sayang seribu kali sayang, Alif harus berjuang untuk mandapatkan hati Raisa, terutama dari Randai, sahabat sepermainan Alif dari kecil.
Saya merasa buku ini luar biasa.
Buku ini memberikan motivasi besar untuk mengejar semua mimpi dan cita-cita.
Tidak cuma bermimpi, tapi kisha ALif mengajarkan kita bagaimana cara untuk bisa meraih mimpi. Tidak hanya dengan berusaha sekuat tenaga tapi juga kesabaran.
Dari semua tokoh pendamping Alif dalam buku ini, favorit saya adalah Rusdi
Entah kenapa, saya merasa Rusdi ini membuat buku ini terasa lebih menarik lagi. Lucu, nasionalisme tinggi tapi juga seniman.
Saya udah cari2 downloadan ebook gratis belum ketemu, kalo ada yg tau link or udah upload, boleh dunk bagi2...
Negeri 5 Menara adalah novel pertama karya Ahmad Fuadi yang diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 2009. Novel ini bercerita tentang kehidupan 6 santri dari 6 daerah yang berbeda menuntut ilmu di Pondok Madani (PM) Ponorogo Jawa Timur yang jauh dari rumah dan berhasil mewujudkan mimpi menggapai jendela dunia.
Mereka sekolah, belajar dan berasrama dari kelas 1 sampai kelas 6. Kian hari mereka semakin akrab dan memiliki kegemaran yang sama yaitu duduk dibawah menara pondok madani. Dari kegemaran yang sama mereka menyebut diri mereka sebagai Sahibul Menara.
Tiba-tiba saja dia harus naik bus tiga hari tiga malam melintasi punggung Sumatera dan Jawa menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Ibunya ingin dia menjadi Buya Hamka walau Alif ingin menjadi Habibie. Dengan setengah hati dia mengikuti perintah Ibunya, belajar di pondok.
Di kelas hari pertamanya di Pondok Madani (PM), Alif terkesima dengan “mantera” sakti man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses.
Dia terheran-heran mendengar komentator sepak bola berbahasa Arab, anak menggigau dalam bahasa Inggris, merinding mendengar ribuan orang melagukan Syair Abu Nawas dan terkesan melihat pondoknya setiap pagi seperti melayang di udara.
Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai, Alif berteman dekat dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung danBaso dari Gowa. Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka berenam kerap menunggu maghrib sambil menatap awan lembayung yang berarak pulang ke ufuk. Di mata belia mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Kemana impian jiwa muda ini membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah: Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.
REPUBLIKA.CO.ID, LONDON - Gedung Putih memang harus merevisi cerita tentang penyerbuan yang menewaskan Osama bin Laden di Abbottabad, Pakistan, demikian harian yang terbit diInggris, Guradian, melaporkan. Media ini mencatat, banyak fakta yang berbelok tentang operasi penyerbuan itu, dan tentang Osama bin Laden sendiri.
Kini, rumah persembunyian Osama dijaga ketat aparat kepolisian Pakistan. Namun, banyak jejak Osama di sana yang sudah dihapuskan. Setidaknya, para prajurit Amerika yang telah menjelajahi bangunan tiga lantai itu membawa serta harddisk komputer dan dokumen berharga- termasuk juga tubuh Bin Laden yang berlumuran darah, yang kemudian dikubur di laut.
Keesokan harinya, intelijen Pakistan - marah karena tidak menerima informasi tentang penyerbuan itu. Mereka datang mengangkut furnitur dan barang-barang lain. Tapi itu tidak mungkin untuk menghapus setiap jejak drama yang menjadi akhir perburuan tersebut.
Apa saja fakta yang dibelokkan dari penyerbuan itu? Berikut data-data dari Guardian:
* "Ini adalah perak!" Yasser, bocah 12 tahun, menyatakan. Apa yang dipegangnya hanyalah potongan dari sebuah knalpot mobil biasa. Gambaran AS bahwa Osama tinggal di mansion mewah ikut mempengaruhi publik Pakistan, bahwa pimpinan Al Qaeda itu bergelimang kekayaan di akhir hayatnya. Seorang intelijen yang berkeliaran di dekatnya tampak gugup, sebelum menyambar anak dengan tangan dan membawanya pergi.
* Beberapa jam setelah kematian Bin Laden, para pejabat AS memberitahu bahwa ia melawan dan karenanya ditembak oleh tim khusus AL Amerika Serikat yang menyerbu lantai kedua dan tiga dari tempat persembunyiannya. Fakta itu ternyata tidak benar. Bin Laden tidak bersenjata, ditembak di kepala dan dada.
* Rincian lain menyebutkan ia menggunakan salah seorang istrinya sebagai tameng hidup. Faktanya, istrinya telah terluka di kaki sambil bergegas ke arah pasukan khusus sebelum ia terbunuh.
* Disebut-sebut, rumah persembunyian Osama bin Laden adalah sebuah mansion dekat markas tentara Pakistan berharga sewa jutaan dolar AS. Faktanya, rumah bertembok tinggi itu jauh dari gambaran itu; setidaknya terlihat dari cat bangunan yang terkelupas dan tak terawat, serta tak ada satupun AC di lantai-lantainya.
* Berbagai rincian, bagaimanapun, tetap kabur. Para pejabat Amerika mengubah versi awal mereka untuk mengungkapkan bahwa seorang perempuan yang tewas dalam serangan terhadap kompleks itu bukan istri Bin Laden.
Hal ini juga tidak jelas bagaimana Bin Laden, yang terpojok dalam ruangan di lantai tiga yang ditandai dengan kaca jendela hancur, melawan saat tentara AS menerobos ke kamarnya.
MELBOURNE, KOMPAS.com — Seorang pelajar/mahasiswa Indonesia, Teguh Iskanto, menulis kegiatan studi banding anggota Komisi VIII DPR di Australia. Didi Rul, jurnalis warga yang tinggal di Melbourne, melaporkannya di media sosial Kompasiana.
Berikut laporan selengkapnya....
Tulisan
ini ditulis oleh rekan saya, Teguh Iskanto, ketika menghadiri dialog
antara Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) dan Komisi VIII
DPR RI di Ruang Bhinneka Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di
Melbourne pada 30 April 2011 pukul 20.00 waktu setempat. Pembuka
Setelah
bertahun-tahun menjadi WNI, akhirnya kesampaian juga saya mendapat
kesempatan untuk dapat bertatap muka dan berdiskusi dengan para wakil
rakyat. Terlebih, tidak terasa sudah 9 tahun 10 bulan saya meninggalkan
Indonesia, dan mungkin kesempatan ini adalah satu-satunya kesempatan bagi saya untuk bisa bertemu dan bertatap muka langsung dengan para pejabat negara. Setelah terburu-buru nyupir karena
takut terlambat, akhirnya saya beserta istri sampai juga di KJRI
sekitar pukul 18.15 AEST. Walhasil, sesampai di KJRI, terlihat jelas
pihak konsulat sudah mempersiapkan acara dengan matang. Makanan,
kursi-kursi tamu beserta meja panelis untuk pembicara, semua sudah
disiapkan dengan rapi. Waktu sudah menunjukan pukul 18.19, tapi belum
juga terlihat tanda-tanda kedatangan para tamu yang "terhormat",
padahal di dalam undangan tertulis acara akan dimulai pukul 18.00. Menunggu sang tamu datang
Sambil menunggu,
akhirnya saya menggunakan waktu yang ada untuk shalat maghrib,
bercengkerama dan beramah tamah dengan kawan-kawan. Di bagian depan
terlihat banyak kamera dan video dari beberapa media komunitas
Indonesia di Melbourne. Berikut ada juga perwakilan Radio ABC Australia
yang datang untuk meliput. Sementara beberapa kawan dari PPIA sudah
siap dengan siaran internet radio langsung yang disebarkan ke seluruh
dunia via PPI Internasional, semua alat sudah diset dan disiapkan.
Seputar
berita-berita negatif yang ada di internet tentang rencana studi
banding anggota Dewan, saya sebelumnya juga sudah diingatkan oleh istri
dan seorang kawan untuk tidak menghakimi para anggota Dewan. “Berikan
mereka kesempatan untuk menjelaskan alasan mereka, dan jangan pojokan
mereka, mungkin ada sesuatu yang kita tidak tahu,” begitu saran yang saya dapatkan dan saya pun setuju untuk menjadi lebih netral dan obyektif, lagi pula “who are we to judge people anyway…”.
Suasana di Konsulat Jenderal RI sesaat sebelum dialog dimulai. Courtesy of Dirgayuza Setiawan
Akhirnya sang tamu datang juga
Setelah
menunggu cukup lama, akhirnya sang tamu yang ditunggu-tunggu datang
juga. Secara persis, saya tidak melihat jam, mungkin sekitar pukul
18.50-19.00. Hadirin tampak antusias dan tidak terasa suasana Ruang
Bhinneka di KJRI Melbourne menjadi hidup karena semua orang mulai
terlihat antusias. Beberapa anggota Dewan bahkan ada yang mulai
memperkenalkan diri secara pribadi dan menyapa hadirin satu per satu.
Beberapa juga ada yang beramah tamah dengan staf KJRI. Setelah beramah
tamah 5-10 menit, staf KJRI mengumumkan untuk memulai acara dengan
hidangan makan malam terlebih dahulu. Pada mulanya saya sempat
berpikir, wah, ini sepertinya strategi dari KJRI untuk meredam
pertanyaan dari hadirin, dengan membuat mereka kenyang dan mengantuk
setelah makan… :) he-he-he.
Rombongan anggota Komisi VIII DPR RI di KBRI Canberra. Sumber: www.kemlu.go.id
Acara dimulai
Setelah
menikmati santap malam, akhirnya acara dibuka oleh Acting Consul
General, Bapak Hadisapto Pambrastoro, mewakili KJRI Melbourne. Bapak
Hadi mencoba memaparkan komposisi masyarakat Indonesia di Melbourne,
yang lebih dari 50% umumnya diisi oleh pelajar. Sebelumnya juga hadirin
diingatkan bahwa acara tanya jawab hanya akan dibatasi sampai pukul
21.00 mengingat jadwal kesibukan anggota tim Komisi VIII keesokan
harinya (which is private dinner bersama staf KJRI. Kayak gini dibilang sibuk?).
Sementara
dari pihak Komisi VIII diwakili oleh juru bicaranya, Bapak Abdul Kadir
Karding (PKB). Beliau memperkenalkan anggota tim studi banding satu
per satu dengan komposisi 7 orang anggota duduk di meja panelis, yang
terdiri dari perwakilan PDI-P (Ina Ammania), Golkar (Drs H Zulkarnaen
Djabar), PKS (Ahmad Zainuddin, LC), PKB (H Abdul Kadir Karding, SPI -
Ketua Rombongan dan Pembicara), Golkar (Dra Hj Chairun Nisa, MA),
Hanura (Dra Hj Soemintarsih Muntoro, MSi), dan Demokrat (Dra Hj Ratu
Siti Romlah, MAg). Jumlah total keseluruhan anggota Komisi VIII yang
datang pada studi banding kali ini 11 orang.
Beliau juga mencoba memaparkan bidang kerja Komisi VIII yang umumnya berkonsentrasi di bidang:
Keagamaan (mencakup di dalamnya: agama, pendidikan agama, masalah ahmadiyah, pluralisme, dan terorisme)
Penanggulangan bencana
Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak
Kementerian sosial (di antaranya: masalah sosial, lansia, kemiskinan, orang cacat, dan anak jalanan)
Di
salah satu kesempatan, beliau juga menjelaskan, tujuan kedatangan ke
Australia adalah untuk belajar mengenai upaya penanggulangan kemiskinan,
di antaranya menyusun konsep rancangan untuk:
RUU Fakir Miskin
RUU Kebebasan dan Perlindungan Beragama
RUU ZIS (Zakat Infaq Shadaqah) - pengurangan pajak terhadap donasi/sumbangan
RUU Jaminan Produk Halal
RUU Keadilan dan Kesetaraan Gender
RUU Pendidikan yang Dikelola Masyarakat Swasta
Beliau juga menjelaskan mengapa Australia menjadi negara yang dituju:
Lebih dekat dibanding negara-negara lain (sehingga bisa mengurangi biaya)
Australia
memiliki sistem jaminan sosial yang terstruktur dan mapan, kalau
meminjam kata-kata Bpk Karding: “Sistem yang luar biasa”.
Salah satu negara yang sukses menerapkan prinsip multikulturalisme sampai pada tingkat pendidikan anak-anak.
Ketua Rombongan Komisi VIII Bapak Abdul Kadir Karding memperkenalkan diri dan rombongan. Courtesy of: Dirgayuza Setiawan.
Sesi pertanyaan
Setelah
mendengarkan paparan tadi, saya cukup mengakui bahwa Bapak Abdul Kadir
Karding (PKB) memiliki kemampuan komunikasi yang hebat. Beliau mencoba
"meredam" suasana hadirin yang ada di Ruang Bhinneka
dengan ’lelucon-lelucon’ dan dengan paparan gaya bahasa yang lugas,
tenang, dan terstruktur. Mungkin inilah sebabnya beliau terpilih menjadi
ketua rombongan karena, dari apa yang saya lihat secara pribadi,
beliaulah yang memiliki kemampuan public speaking yang paling
mencolok dibandingkan anggota-anggota yang lain. Karena kalau dilihat,
ada beberapa anggota yang hanya duduk di kursi panelis tanpa ada
sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka (selain memperkenalkan
diri), ada yang hanya mencatat, dan ada pula yang hanya sesekali
berkomentar. Kalau dilihat memang "all in all", sepertinya memang sudah
menjadi tugas Bapak Karding untuk "menjinakkan" hadirin. :)
Pada saat sesi tanya jawab dimulai, ada 3 penanya pertama (dari beberapa yang berusaha secara antusias): 1. Bagus Nugroho (Mahasiswa Program S-3 Bidang Aeronautics Melbourne University & Nano Tech dari Oxford University)
Mengenai
dana yang dikeluarkan untuk 11 anggota Komisi VIII yang pergi studi
banding ke Australia, menurut perhitungan Bagus, jumlah dana yang
dikeluarkan adalah sekitar Rp 811 juta selama 6 hari atau sekitar US$
5.000 per orang per minggu. Pertanyaannya adalah mengapa sebesar itu?
Bukankah itu dana yang sangat besar untuk dikeluarkan mengingat tingkat
efektivitas yang rendah dari hasil studi banding? 2. Dirgayuza Setiawan (Wakil Ketua PPIA - Mahasiswa Jurusan Media)
Yuza
mencoba menyangkal argumen Bapak Karding yang mempertanyakan mengapa
surat terbuka PPIA dikirimkan terlebih dahulu ke media dibanding
langsung ke beliau. Menurut Yuza, karena semua channel yang ada telah dicoba, berikut mengakses website pribadi Bapak Karding yang ternyata berstatus "suspended". Dari website DPR RI pun tidak ada keterangan nomor kontak dan alamat e-mail yang bisa dihubungi. Karena itu, Yuza menghubungi media untuk meminta informasi.
Seperti
telah diketahui sebelumnya dalam wawancara radio Australia di
Canberra, Bapak Karding mengatakan bahwa alasan anggota Komisi VIII
tidak mengunjungi daerah Northern Territory (NT) adalah karena beliau
menangkap adanya “sinyal-sinyal” keengganan dari Pemerintah Australia
untuk membolehkan mereka pergi ke NT. Karena, menurut beliau, issue penduduk miskin Aborigin di Australia adalah issue yang
sensitif, apalagi untuk kunjungan parlemen asing. Pada saat yang sama,
Yuza mengatakan, hal yang sama tidak terjadi terhadap
beberapa mahasiswa Indonesia yang mengadakan penelitian di NT untuk
menyurvei penduduk miskin, Pemerintah Australia justru membantu dengan
sepenuh hati. Hal yang menjadi pertanyaan Yuza adalah “sinyal-sinyal”
seperti apakah dan bagaimana cara menginterpretasikan sinyal yang
ditangkap Bapak Karding sehingga jatuh pada kesimpulan bahwa Pemerintah
Australia enggan mengizinkan anggota Komisi VIII DPR RI pergi ke NT?
Terlebih, daerah NT adalah daerah dengan konsentrasi penduduk miskin
terbanyak di Australia.
Pertanyaan yang lain adalah mengapa
kunjungan yang dilakukan hanya mampu menghubungi pejabat-pejabat
setingkat negara bagian, tapi tidak sampai pada tingkat pemerintah
federal? DPR cenderung dianggap tidak siap dalam menyiapkan bahan-bahan
dan memilih narasumber (kurangnya koordinasi dan tidak tepat sasaran)
dan kalaupun ini memang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, kenapa ada
visa salah satu anggota tim Komisi VIII yang ditolak oleh Pemerintah
Australia? 3. Usep Abdul Matin (Mahasiswa S-3 Bidang Sosiologi Monash University)
Beliau menanyakan tentang kerukunan hidup beragama, terutama masalah perlakuan pemerintah terhadap pengikut Syiah di Indonesia. Sesi Komisi VIII menjawab (hadirin mulai gelisah/gusar):
Lagi-lagi saya harus akui kelihaian Bapak Abdul Kadir Karding untuk urusan "skill" public speaking.
Sepertinya beliau menguasai betul medan dan trik untuk mengulur-ulur
waktu, salah satunya adalah dengan melambatkan tempo bicara dan
berbicara hal-hal yang di luar konteks pembicaraan. Hal ini menyebabkan
waktu yang tersisa tinggal sedikit. Beberapa kali Dirgayuza (Wakil
Ketua PPIA) menginterupsi anggota Komisi VIII untuk straight to the point pada pertanyaan yang ditanyakan.
Salah
seorang anggota Komisi VIII dalam menjawab/menanggapi pertanyaan dari
Bagus Nugroho bahkan membandingkan, anggaran yang diterima oleh Komisi
VIII dalam studi banding kali ini masih lebih kecil jika dibandingkan
dengan salah satu staf kementerian Australia yang katanya bisa menerima
3 kali lipat dari apa yang diterima oleh Komisi VIII. Hello!!!
Australia itu kan pendapatan per kapitanya lebih besar dari Indonesia,
Kira-kira sekitar US$ 55.590 per tahun. Indonesia sekitar US$ 3.015 per
tahun (sumber Wikipedia). Apa mereka itu nggak mikir ya sebelum menjawab???
Beberapa
anggota Dewan yang diberi kesempatan untuk menjawab memulai dengan
meminta kepada kawan-kawan PPIA agar tidak terkesan
menghakimi/mengadili mereka dalam dialog kali ini. Bahkan, ada yang
mengalami suasana “kebatinan” (mungkin maksudnya feeling so emotional)
ketika mengunjungi Australia kali ini seraya bercerita tentang
beberapa anaknya yang dulu pernah bersekolah di Melbourne, Australia,
dan suaminya yang pernah menjadi ketua perhimpunan pelajar pada saat
itu. Secara pribadi, menurut saya, jawaban-jawaban yang diberikan lebih
bersifat normatif dan tidak pada inti permasalahan dan cenderung
berputar-putar. Apakah ini suatu kesengajaan untuk mengulur waktu?
Wallahualam… hanya Tuhan yang tahu.…
Karena jawaban tidak
dirasakan mengena dan berputar-putar untuk hal-hal yang tidak penting,
sementara waktu semakin sempit, banyak hadirin yang mulai melakukan
interupsi sehingga suasana Ruang Bhinneka menjadi gaduh. Tidak hanya
itu, beberapa kali sudah mulai terdengar suara cemoohan dan kata-kata
“huuuu…kecewaaaaa!!!” dari hadirin.
Ketika mendekati pukul
21.00, pihak KJRI berusaha menutup sesi tanya jawab, dengan alasan
kesibukan anggota Dewan pada keesokan harinya: which is Sunday of course.
:) Bukankah adalah hak kita sebagai rakyat untuk meminta/menanyakan
hal-hal yang dirasa perlu ke wakil rakyat kita di parlemen? Pada saat
itu, suasana semakin riuh dan sudah ada hadirin yang berteriak-teriak
langsung bertanya… tanpa moderator… :) terus terang suasana sudah
sedikit agak kacau pada waktu itu. Bahkan, ada beberapa yang langsung
meninggalkan ruangan dan langsung pulang.
Salah
satu anggota Komisi VIII DPR RI mencoba untuk menjawab pertanyaan yang
dilontarkan mahasiswa Indonesia di Melbourne. Courtesy of: Dirgayuza
Setiawan.
Here comes the bomb shell…
Salah satu kawan saya (pas saat sesi kacau) sempat berteriak, “Kenapa nggak pakai teleconference aja sih
Pak?” Pada saat itu, Bapak Karding menjawab, “Wah, itu kan teknisnya
terlalu rumit…." Sontak mendengar jawaban tadi, hadirin yang umumnya
mahasiswa langsung tertawa… lalu ada lagi yang nyeletuk, “Pak, mau dibikinin account Skype sama saya nggak?” Trus, ada beberapa anggota Komisi VIII yang mengatakan, karena keterbatasan waktu, kawan-kawan bisa menghubungi kami lewat e-mail. Tapi, ketika serentak kami menanyakan apa alamat e-mail beliau, yang keluar adalah… xxxx@yahoo.com :) .
Beberapa
hadirin, termasuk saya, tampak kesal dengan jawaban tersebut, kemudian
hadirin menanyakan, “Kami ingin alamat resmi Bapak!” Dan dibalas
dengan, “Nanti… nanti akan diberikan….” Pada saat itu penyiar radio
PPI Internasional menginterupsi, “Tolong disebutkan saja Pak di sini,
jadi semua orang bisa dengar….” Bahkan dengan tantangan itu pun
sepertinya mereka, bapak-bapak/ibu-ibu anggota Komisi VIII itu, tidak
tahu… apa alamat e-mail resmi mereka… Saya lihat ada 1 orang
staf ahli yang mendampingi Komisi VIII sibuk bolak-balik mencoba
membagikan kartu nama (yang itu pun dalam kartu nama tersebut tercantum
alamat e-mail Gmail dan Yahoo ) …???
Karena suasana
panik dan makin riuh, salah seorang ibu (staf anggota Komisi VIII)
berteriak, ” KALAU ADA YANG PERLU DITANYAKAN… SILAKAN SAJA KIRIM KE
ALAMAT E-MAIL: KOMISI DELAPAN AT YAHOO DOT COM.. !!!!” Pada saat itu,
tawa hadirin langsung pecah.... Saya sendiri geleng-geleng kepala dan
sudah tidak tahu mau bicara apa lagi…. (selengkapnya lihat saja di
sini:
Ada
teman yang bilang: Wah, kalo gitu mah gak usah jadi anggota DPR, anak
saya yang masih kecil juga udah bisa bikin e-mail Yahoo sendiri… :)
BTW, setelah acara selesai, salah seorang kawan mencoba mengirim test mail (via BB) ke:
- komisiviii@yahoo.com
- komisi8@yahoo.com
- komisidelapan@yahoo.com
- komisiviii@yahoo.co.id
- komisi8@yahoo.co.id
- komisidelapan@yahoo.co.id and guess what, none of them is working…!!! Semua e-mail test bouncing back ke sender alias alamat yang diberikan tidak ada…!!!!
Lagi-lagi
karena tidak puas, saya beserta istri dan kawan-kawan mendekati ibu
salah satu staf ahli pendamping anggota Komisi VIII dalam kunjungan
kerja ini, sambil menanyakan alamat resmi, saat itu beliau bilang,
“Lihat aja di website DPR, nanti kan ada daftar masing-masing kKomisi, nanti dari situ ada alamat imelnya."
Lagi-lagi kita cek via HP, dan …ternyata tidak ada (kalau tidak percaya, silakan cek sendiri ke www.dpr.go.id).
Kalau begini, mana yang benar? Kalau yang bekerja di DPR saja tidak
tahu alamat kontak resmi yang bisa dihubungi, bagaimana dengan orang
lain?? Dan jangan salah bahwa 1 staf DPR memiliki 7 asisten (staf
ahli), *Unfortunately* sepertinya tidak satu pun dari ke-7 asisten
beserta anggota DPR itu sendiri tahu alamat kontak resmi mereka
??? Kalau untuk hal yang sangat mendasar saja mereka tidak kompeten,
bagaimana mereka akan membela kepentingan rakyat yang akan mereka
wakili???
Bagaimana tidak, DPR RI, parlemen dari negara dengan
jumlah penduduk ke-4 terbesar di dunia, parlemen dari negara anggota
G-20 (negara dengan salah satu kekuatan ekonomi dan pangsa pasar
terbesar di dunia) serta mempunyai anggaran bertriliun-triliun rupiah
untuk gedung baru, lengkap dengan fasilitas dan tunjangan lainnya…
masih memakai alamat e-mail gratis untuk kontak terhadap rakyat yang diwakilinya…??
Tidakkah
mereka berpikir bahwa parlemen kita akan menjadi bahan olok-olok
parlemen Australia begitu melihat kartu nama dengan alamat e-mail dari Yahoo/Gmail???
Ketika
ditanya alamat kontak mereka, umumnya mereka kebingungan menjawabnya,
yang menurut saya sangat-sangat aneh, bukan?? Bagaimana mereka mau
mendengar aspirasi rakyat yang mereka wakili jika alamat kontak untuk
dihubungi pun mereka kebingungan menjawabnya??
Setelah acara
diskusi selesai, beberapa dari kami yang tidak puas langsung menyerbu
dan bertanya langsung ke anggota Komisi VIII. Ada dari beberapa di
antara mereka tidak membawa kartu nama!!! Bagaimana mereka ingin
memperkenalkan diri di hadapan anggota parlemen Australia jika kartu
nama saja mereka tidak bawa, dan kalaupun ada, mereka mencantumkan
alamat e-mail gratis (Yahoo/Gmail) sebagai alamat kontak mereka !!!
Pada
saat saya mencoba bertanya kepada Bapak Karding tentang kunjungan studi
banding, saya tanyakan, “Pak, bukankah menjadi paradoks bagi DPR bahwa
kunjungan studi banding dalam rangka mengentaskan kemiskinan, tapi di
saat yang sama DPR menghambur-hamburkan uang rakyat yang akan
dientaskan kemiskinannya???”
Ironis sekali memang ternyata, dan
syukur…kalau bukan karena kesempatan ini, saya mungkin hanya bisa
mendengar dari media massa tentang perilaku anggota DPR, tapi untuk
saat ini saya bisa melihat, mendengar, dan mengalaminya sendiri di depan
mata.
Saat itu kami sempat bingung dan bertanya kepada salah
satu staf senior KJRI, ”Pak, apa memang sudah separah inikah
keadaan institusi di negara kita?” Beliau menjawab (dan mencoba
berdiplomasi), “Maaf Dik, saya sendiri belum berkecimpung di dunia
politik, mengenai komentar, saya pikir, Adik bisa lihat sendiri apa
yang terjadi tadi.” (kayaknya beliau juga shock) Penutup By the way, beberapa kawan sebelum pulang, kita sempat bercanda, “Kayaknya abis malem ini
kita bakal susah tidur nih….” Dan banyak yang geleng-geleng kepala
sampai keluar pintu KJRI, sepertinya kita masih belum percaya dengan
apa yang kita lihat.
Entah mau dibawa ke mana negara ini jika para pemegang amanahnya saja tidak kompeten di bidangnya.
Dan,
memang ternyata benar, sampai sekarang, pukul 6.30 pagi, pun saya
belum bisa tidur… :) Bahkan hingga keesokan harinya, seorang kawan
berkelakar di milis, “Mungkin coba aja imel ini:
k0M151d3L4P4n@yahoo.com, kali aja mereka ber-alay ria…he-he-he….” Laporan oleh: Teguh Iskanto Diedit oleh: Didi Rul Source
INILAH.COM, Jakarta – Buronan paling dicari Amerika Serikat (AS), Osama bin Laden, terkenal pandai sembunyi. Berikut teknologiyang pernah dipakai AS untuk mengejar buronan ini.
AS telah mengejar-ngejar Osama bin Laden sejak peristiwa World Trade Center lalu (9/11) dan banyak cara yang tak membuahkan hasil. Berikut cara-cara yang pernah dilakukan AS untuk mengejar bin Laden.
Model pelacakan biologis
Geografer University of California-Los Angeles (UCLA) Thomas Gillespie dan John Agnew membuat model pencarian pemimpin teroris itu menggunakan teknik yang sama untuk melacak binatang dan pola migrasinya.
Murtaza Haider dari Ted School of Management Ryerson Unversity mengatakan, “Profesor geografi UCLA menggunakan analisa spasial guna menentukan tempat persembunyian bin Laden”.
Sejumlah model biologis bisa sangat berguna dalam mencari bin Laden.
Pertama disebut teori distance decay (DD). Teori ini menggambarkan efek jarak pada budaya atau interaksi spasial. Kemungkinan menemukan hewan lain menurun secara eksponen saat pergi lebih jauh dari tempat tinggal.
Kedua disebut island biogeography (IB), teori ini merujuk pada wilayah habitat yang dikelilingi wilayah yang tak bisa ditinggali.
Melalui kedua cara itu, informasi mengenai hewan tertentu akan dipersempit pada tempat hewan bisa ditemukan. Melalui DD, bin Laden diketahui tak akan pergi jauh dari tempat terakhir ia diketahui. Melalui IB, bin Laden diketahui berpeluang besar dapat ditemui di kota besar.
Rock Phone
Osama bin Laden diduga bersembunyi di gua di pegunungan Afghanistan atau Pakistan. Tentara AS berencana membeli sistem komunikasi inovatif bernama Rock Phone.
Perangkat ini bisa menembus gua, terowongan, tambang, dan struktur bangunan besar yang tak bisa ditembus frekuensi radio. Hal ini memungkinkan tentara saling berbicara dari bawah tanah ketika mendekati pemimpin paling dicari itu.
Penyedia perangkat ini, Ultra Electron, juga memasok tentara AS dengan perangkat peledak khusus yang diberi nama MI-RAMS. Perangkat ini mampu memancarkan sinyal melalui batu atau bumi untuk meledakkan bom dari jarak jauh. Untuk itu, AS menghabiskan dana US$5,7 juta (Rp 48,8 miliar). [mor]